Bayangan dibalik Tirai Senyum
Siang itu, di bangku taman sekolah menengah atas yang rindang, di antara semilir angin yang mengantar wangi melati, seorang gadis muda bernama Kala membuka tirai kisah hidupnya padaku. Matanya yang biasanya memancarkan riang, kini redup, menyimpan badai yang tak pernah kubayangkan. Aku, yang selama ini mengira masalahku adalah yang terbesar, terhenyak. Ternyata, manusia bisa menjadi makhluk paling menakutkan di muka bumi, dan rumah, terkadang, adalah penjara paling kejam.
"Kau tahu," bisiknya, suaranya nyaris tenggelam oleh desiran dedaunan, "aku benci pulang ke rumah. Hatiku mencelos setiap kali kakiku melangkah masuk." Bukan, bukan karena pertikaian orang tua. Bukan gertakan atau bentakan. Lebih dari itu. Ada bayangan yang menanti di balik pintu, bayangan yang seharusnya menjadi pelindung, namun menjelma mimpi buruk. "Kakak iparku," lanjutnya, tatapannya menerawang jauh, "seharusnya dia adalah kakak keduaku, tempat berbagi tawa, teman berpetualang. Tapi semua itu hanya fatamorgana. Dia adalah ujian terberat dalam hidupku. Suara-suara omongannya yang menyayat, bentakannya pada anak-anaknya yang tak bersalah, dan teriakannya yang memecah kesunyian rumah… semua itu seperti belati yang menusuk ketenangan."
Rumah, bagi sebagian orang, adalah pelabuhan. Namun bagi Kala, rumah adalah badai yang tak berkesudahan. Di sanalah ia menemukan definisi baru tentang ketidaknyamanan. Tempat yang seharusnya menjadi oase, justru menjelma gurun pasir yang kering kerontang. Maka, tak heran jika baginya, rumah tak lagi berbentuk bangunan. Rumah adalah tempat ia bisa bernapas lega: di antara buku-buku di perpustakaan, di bawah langit senja yang memudar, atau bahkan di sela-sela tawa renyah kami, teman-teman sebaya. Di tiap fase kehidupan, selalu ada celah kecil untuk bertahan, untuk mencari setitik cahaya di tengah kegelapan.
Manusia memang dilahirkan dengan masalah dan ujian, pikirku. Namun, di setiap langkah, di setiap tarikan napas, Tuhan selalu ada, membimbing, menemani. Sejak hari itu, aku tak henti mencari jawaban, mengapa hati manusia bisa sekelam itu, mengapa kebaikan bisa bersembunyi di balik topeng kemarahan.
"Rumah." Satu kata itu, bagi Kala, adalah hantu yang menunggunya. Bukan hantu berwujud gaib, melainkan manusia, berwujud nyata. Setiap kali badai kecil menerjang, kembali ke rumah terasa seperti menyingkirkan batu besar di jalan. Sebagian orang mungkin akan menyingkirkannya, berjuang untuk pulang. Namun Kala, ia memilih untuk berlama-lama, menunda kepulangan, seolah menghindari takdir yang tak terhindarkan.
Katanya, kakak iparnya berasal dari keluarga yang retak. Menikah dengan kakak kandungnya, di bulan pertama, sang kakak ipar tampak pendiam, kalem, seolah malaikat. Namun, itu hanyalah ilusi. Setelah setahun hidup bersama, topeng itu runtuh. Sifat aslinya keluar, mengaum bak singa yang kelaparan. Angannya tentang kakak ipar perempuan yang asyik, yang bisa diajak berbagi rahasia, hancur berkeping-keping. Takdir berkata lain. Waktu berjalan, mendobrak semua harapannya. Sifat manusia memang tak bisa ditebak. Dan yang paling menyakitkan, ada rasa iri yang tersimpan di hati kakak iparnya. Ketika Kala dan ayahnya tertawa lepas di depan televisi, esoknya wajah sang kakak ipar akan mengeras, menahan amarah yang membuncah.
"Air bersih di bak mandi yang sudah kuisi penuh setelah aku selesai mandi, kau tahu dia apakan?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Untuk mandi lagilah, apalagi," jawabku, mencoba mencairkan suasana dengan tawa.
"Salah!" Suaranya meninggi, sarat luka. "Dia membuangnya! Betapa tidak menghargai orang lain. Hatiku menangis kala itu." Kala kecil, dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibu dan bapaknya tak pernah membentaknya, bahkan berbicara pun selalu lembut. Tapi kini, orang asing itu, dengan seenaknya, merenggut semua ketenangan. "Dulu, aku tak pernah tahu suara bantingan pintu, suara sendok yang dilempar. Kini, semua itu menjadi santapan sehari-hari. Aku seperti jiwa yang hancur, tapi aku bertahan demi kedua orang tuaku."
Ia meluapkan semua keluh kesah yang ia pendam selama dua tahun. Pulang sekolah pukul 15.30 WIB, ia seringkali sengaja berlama-lama, shalat Asar dulu, atau sekadar menikmati senja di luar gerbang. Aku baru tahu hidupnya seberat itu. Sebagai teman beda kelas, aku sering menemaninya pulang, menunggu hingga satpam sekolah mengusir kami. "Pak Satpam mana tahu, bagi beberapa murid, pulang ke rumah itu seperti hendak bertemu setan," batinku. Jarak rumah kami yang cukup jauh, membuat kami sulit bermain di luar bersama.
Kala, teman baikku di SMA. Sederhana, periang, cerdas, dan bodoh kalau sudah jatuh cinta. Tak kusangka, di balik senyum tulus itu, ia menyembunyikan badai yang begitu besar. Aku yang selama ini mengira masalahku adalah yang paling berat, kini belajar bahwa setiap manusia memikul badainya sendiri, dengan tenang, dengan senyum yang tak jarang menipu.
Berteman dengannya membuatku belajar banyak tentang kehidupan. Manusia memang bisa berubah, dan terkadang, manusialah makhluk paling menyeramkan di bumi. Dari Kala, aku belajar untuk selalu tenang menghadapi masalah.
Ada satu kalimat favorit yang pernah ia utarakan padaku, yang selalu kuingat: "Tetaplah berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai. Biarkan orang lain mencibir, berpandangan salah, tapi tetaplah berbuat baik, menolong sesama. Yakinlah, setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan menjadi permata di kehidupan yang lain. Biarkan manusia salah paham. Yang terpenting, tetap yakin bahwa Tuhan selalu bersama."
Komentar
Posting Komentar